Pentingnya Pemahaman ‘Geoecoliteracy’ Di Papua Mengantisipasi Ancaman Masa Depan Kehidupan

0

 Oleh : EnagoDM.

“Saya Memprediksi Bahwa Ancaman Masa Depan Papua Tentu Sangat Berat, Bila Dilihat Dari Segala Fenomena Yang Selama Beberapa Tahun Ini Menerpa Papua Dari Segala Arah Mata Angin. Salah Satu Ancaman Yang Terlihat Dan Terjadi Di Papua Adalah Yang Berkaitan Dengan Ancaman Kerusakan Geoekologi dan Kebudayaan Papua. Maka, Menurut Saya Pentingnya Membumikan Pendidikan Dan Pemahaman ‘Geoecoliteracy’ Konteks Kebudayaan Lokal Papua Di Seluruh Daerah Papua Dari Rajaampat Sampai Merauke Dan Pulau Adi Sampai Pulau Mapia. Ini Perlu Diprioritaskan Antara Kita Kalangan Intelektual, Lalu Dimulai Dari ‘Person By Person’ di Antara Orang Asli Papua. Papua, Sebenarnya Tidak Kosong Dengan Kita Yang Selesai dari Beragam Ilmu Alam Maupun Ilmu Humaniora serta Ilmu Sejarah Sebagai Kekuatan dan Kesempatan Untuk Membangun Pemahaman Tentang ‘Geoecoliteracy’. Saya Meyakini Benar Selama Ini bahwa Sebenarnya Orang Asli Papua Adalah Orang ‘Alam Dan Manusia Serta Budayanya Terbangun Secara Alamiah, Sehingga Tidak Boleh Diganggu, Apalagi Dipunahkan Atas Kepentingan Bangsa Lain’. Dalam Sepanjang Hidup Orang Papua Selalu Tergantung Pada Alam dan Sebaliknya. Maka Manusia Dan Alam Papua Tidak Boleh Pisah Dan Dipisahkan Oleh Bangsa Lain pula. Masyarakat Adat Papua Merupakan Manusia Petahana Ekologi Alami Sepanjang Masa Di Planet Bumi Ini’. Jadi, Jikalau Hidup Kita Papua Demikian Adanya, Maka Sekarang Kita Tinggal Membangun Pemahaman Yang Kontekstual Lokal Dari Diri, Keluarga Dan Sesama Orang Asli Papua. Tetapi Saya Menyampaikan Untuk Menjalankan Pendidikan dan Pemahaman Tentang “Geoecoliteracy” Papua Tidak Diperbolehkan Untuk Membangun Pendidikan Yang Aplikasinya Bernuasa ‘Teknokrat dan Mekanistik’. Sebab Selama Ini Mereka (Para Teknokrat) Sudah Membangun Edukasi Secara Sistematis Tanpa Menghargai Kearifan Lokal Yang Seharusnya Diedukasikan Secara Kontektual. Tetapi Selama ini Mereka Selalu Mengedepankan Edukasi Yang Bernuasa kemajuan Teknologi Kepada Masyarakat Adat Dunia Lalu Mereka (MaDaT) Selalu Dilibatkan Ke dalam Usaha Mereka menjadi Pekerja Yang Tersistemik Berbasis Teknologi Modern Itu Di Atas Tanah Adat Sendiri Tanpa Dipertimbangkan Kerusakan Yang Akan Menimpahnya. Mereka Bukan Siapa-Siapa, Mereka Itu Tidak Lain Adalah Para Perusak Planet Bumi Itu, (@Enagodemimaki, 26 Oktober 2022)”.

Berpikir untuk mitigasi menghadapi ancaman masa depan bagi bangsa Papua tidak ada harapan lain, kecuali kita sendiri saling percaya dan saling mendukung bila di antara kita ada yang berpikir bagus. Saatnya orang asli Papua berpikir bagaimana kehidupan masa depan yang lebih baik di negeri kita sendiri tanpa mengharapkan terus-terus kepada bangsa lain. Kehidupan masa depan orang Papua bisa menjadi lebih baik bila pendidikan yang baik, belajar yang tidak sulap-sulapan, tanpa ada tekanan dan tanpa ada pengaruh suntikan bahasa orang lain. Sulapan dan tekanan yang saya bermaksud itu sering kita sendiri menghadapi atas dipengaruhi orang lain melalui tekanan-tekanan mereka sambil fisikologi kita dibunuh sampai tak berdaya. Memang itulah yang kita selalu menghadapi selama ini di dalam genggaman negara bangsa lain.

Saya pernah dengar cerita orang lain tentang karakter jahat dari penjajah terhadap bangsa terjajah pantas saja terjadi demikian, sebab bangsa lain pun pernah mengaku secara jujur bahwa mereka juga pernah mengalami penjajahan dari para penjajah secara sistematis. Pengakuan itu diungkap juga oleh Frans Fanon bahwa ‘penjajah tentu mengganggu fisikologi bangsa terjajah lalu dimasukan pemikiran karakter penjajah kedalam otak bangsa terjajah’. Karena demikian niat penjajah, F.Fanon pernah menyampaikan ‘ketidaktahuan kita (bangsa terjajah) sendiri membunuh diri kita sendiri’. Oleh Sebab itu, melalui landasan pesan itu telah diberitahukan kita agar saatnya generasi muda Papua juga bebas berpendidikan dan belajar segala macam ilmu pengetahuan sesuai jurusannya tanpa harus mengikuti sistem pendidikan yang semua dibuat-buat semaunya sistem negara. Tetapi yang paling penting adalah perlu ditajamkan otak agar otak tak kosong untuk mampu melakukan tindakan yang melandaskan kontekstual dengan keadaan hidup orang asli Papua dan alam sekitarnya.

Kita belajar berbagai teori sesuai jurusan kita masing-masing di berbagai kota di luar negeri, dalam negeri dan Papua serta kota mana saja bebas sesuai hak dan cita-citanya. Namun sering menjadi masalah dan kesulitan kita adalah pada tingkatan mana dapat memahami baik dalam aplikasi di negeri kita sesuai disiplin ilmu pengetahuan secara teori yang sudah dipelajari dan dipahami selama studi. Bahkan setelah selesai studi pastinya bawa datang segala pengetahuan yang tak kosong itu. Lalu pasti dipertanggungjawabkan dalam aplikasikannya di hadapan orang tuanya sendiri maupun sesama orang asli Papua yang lainnya. Tetapi menjadi masalahnya adalah jangan sampai saat diaplikasikannya itu di lapangan hasilnya dihadirkan masalah yang tidak menghidupkan masa depan Papua dan memunculkan malapetaka yang besar. Di situlah yang saya bermaksud kita isi baik ilmu pengetahuan yang bukan main-main lagi artinya kita belajar ilmu pengetahuan itu bukan tekstual belaka, yang berguna hanya diberikan nilai yang bagus lalu didapat gelar melalui acara wisuda yang dilakukan di kampus.

Sisi lain kita dapat nilai bagus lalu diwisudakan cepat dan tepat waktu itu sangat penting. Tetapi saya kira yang lebih penting bagi kita (orang asli Papua) adalah saatnya kita belajar betul ilmu pengetahuan sesuai jurusan itu sampai tingkat pemahaman yang tidak kosong otaknya. Lalu disertakan juga dengan kemampuan aplikasi ilmu pengetahuan kita itu secara kontekstual Papua agar saat diaplikasikanya akan tepat pada sasaran yang sesuai dengan potensi hidup orang lokal Papua tanpa dipengaruhi oleh pemahaman dan konteks hidup bangsa lain dari tempat di mana kota studi yang kita pernah tinggal.

Ini yang generasi muda Papua perlu memahami dan belajar baik tentang bagaimana aplikasinya nanti di lapangan agar asas kemampuan kita sangat gampang disesuaikan dengan kontekstual lokal Papua. Pola pikir seperti ini yang kita harus belajar “konsep kontekstualisasi”, yang benar sebab bila kita tidak mampu memahaminya tentu kita tidak menyadarinya. Dan kita sendirilah yang akan menghadirkan malapetaka bagi kehidupan kita di masa depan Papua akibat kelalaian aplikasi ilmu pengetahuan kita secara kontekstual di Papua. Cara belajar model begini ini yang akan menghadirkan terjadinya kerusakan alam yang alamiah dan budaya lokal kita yang asli itu.

Maka itu, kita semua diharapkan rajin membaca buku yang bisa mendukung dalam kebutuhan impian kita masa depan. Mereka menyampaikan kepada semua orang asli Papua yang sudah tahu membaca, jangan lupa membaca buku-buku yang berkaitan dengan alam dan manusia di negeri Papua. Coba kita memandang dan melihat foto kover buku-buku itu. Isi di dalam buku-buku itu pasti telah ditaruh berbagai uraian pemikiran dan pandangan langkah yang mereka telah berikan kepada kita (generasi muda Papua) sebagai kekuatan pemikiran dan ilmu untuk semangat memandang kedepan. Mereka menaman modal melalui buku-buku itu untuk kita agar kita wajib membaca dan mempelajari serta memahaminya. Kemudian, hasilnya akan berguna demi membangun, berpikir dan berdiri bersama melalui satu jalan komando untuk mempertahankan ahli waris negeri Papua yang berekologis alamiah dan berbudaya asli demi menyelamatkan masa depan kehidupan yang lebih baik.

Buku-Buku Ini Bisa Dibaca Untuk Membantu Pemahaman "Geoecoliteracy" Kontekstual Lokal

Buku-Buku Ini Bisa Dibaca Untuk Membantu Pemahaman “Geoecoliteracy” Kontekstual Lokal

Kalau saya sepertinya, ini sering berpikir saja tentang yang pikiran mereka telah investasi ke dalam buku-bukunya itu agar kita rajin membaca lalu saling menghidupan antara kita demi masa depan yang lebih baik. Masa depan yang lebih baik dapat dimulai dari diri-sendiri dengan membaca buku lalu membangun kekuatan di keluarga-keluarga. Sambil menjaga habitat alam dan kebudayaan kita masing-masing di kampung. Hal-hal itulah yang dimaksud dalam buku-buku itu.

Mereka yang telah menaruh pikiran dan pandangan yang mereka sendiri saksi lalu telah dimasukan dalam buku-bukunya itu. Agar bagi kita ini bisa menjadi generasi yang hebat bilamana kita pahami baik lalu mampu mengaplikasikan secara kontekstual Papua. Hasil upaya mereka melalui buku-bukunya tidak menilai kita hebat bila para penerima buku-buku itu tidak pernah membaca dan apalagi sudah dibaca tetapi tidak memahami.

Saya kira, kalau kita sudah membaca buku-buku itu selama ini pasti kita tidak kosong, pasti ada gaunnya pula dan terlihat kekuatan kesadaran lalu bisa menjadi satu jalan dan satu pandangan bersama kedepannya. Oleh karena itu, saya menyampaikan kita harus membangun pemahaman-pemahaman yang saling menghidupan antar sesama anak bangsa Papua. Sebab, persoalan-persoalan yang kita akan menghadapi dalam negara Indonesia ini sangat berat. Dan ancaman  terhadap flora-fauna dan manusia Papua pun tentu akan sulit menghalanginya akibat kerusakan lingkungan oleh perusahaan korporasi asing dan negara Indonesia di negeri kita sendiri. Tindakan program negara yang eksploitatif ini mengakibatkan tentu akan terjadi ancaman kepunahan terhadap ‘geo-ekologi’ dan ‘kosmo-kebudayaan’ di Papua yang tingkat keprihatinannya tentu akan semakin besar di masa depannya.

Oleh karena itu, saatnya semua manusia Papua terutama generasi muda Papua harus membangun “geoecoliteracy local contextual” dengan cara rajin membaca buku-buku yang berkaitan dengan alam dan manusia Papua. (*)

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
ke atas