Sejarah Pendirian
PAGEONET,
pada awalnya maerupakan sebuah organisasi yang disebut ‘Jaringan Advokasi Bencana Geologi Papua
(JABAG-Papua)’ yang berinisiasi oleh Enago Demi Maki setelah selesai Pendidikan D3 Geologi Lingkungan. Dan selanjutnya didukung penuh oleh Asosiasisi
Masyarakat Adat Suku Moni, Wolani, dan Mee dan Tim Terpadu Intelektual Mee di
Nabire yang diafliasi dengan Foker LSM Papua Mikael Manufandu sejak tahun
2009. Sejak itu, kami bekerja secara
individu untuk mengadvokasi kerusakan lingkungan dan hutan hujan akibat
penambangan emas secara illegal oleh
PT.Bakti Mining dan PT.Marta Mining di Degeuwo dan Topo Wilayah Adat Mepago,Papua. Bentuk kegiatan yang pernah dilakukan adalah bikin aksi mogok
Bandar Udara Nabire selama 8 jam sejak tahun 2011. Dan kemudian kami pernah melakukan
seminar bersama di Quest House Nabire
yang difasilitasi oleh Foker LSM Papua sejak tahun 2011. Tetapi, kami sangat senang bahwa
sejak 22 April 2019 ‘PAGEOSNET’ sudah menjadi organisasi nirlaba (Non-Profit Organization) yang legal meskipun
anggotanya hanya 5 orang, namun PAGEOSNET selalu eksis dan konsisten menyuarakan dan mengadvokasi segala kerusakan alam dan manusia di Wilayah Adat Mepago, Papua. Hari Ulang Tahun PAGEOSNET adalah bersamaan dengan Hari Bumi Sedunia (Earth Day), 22 April 2019.
Tentang PAGESONET Saat Ini
Saat ini PAGEOS.NET (Paniai Geoheritage Studies Network), adalah sebuah organisasi nirlaba (Non-Profit Organization) berbasis budaya dan adat lokal secara kontekstual di Wilayah Adat Mepago (Nabire, Dogiyai, Paniai, Timika, dan Intan Jaya) dan Papua secara umum. Dan sebagai organisasi non-profit telah menjadi organisasi riset, edukasi, aksi, dan kampanye tentang segala kerusakan alam sebagai objek-objek warisan bumi (geoheritage) yaitu bagian dari keberagaman bumi (geodiversity), keanekaragaman hayati (biodiversity), dan keanekaragaman budaya (culture diversity).
Moto
Bertindak Lokal Berpikir Global
Visi
Melindungi Warisan Alam Demi Kehidupan Manusia
Misi
- Membangun edukasi melalui literasi ekologi bumi (geoecoliteracy) secara kontekstual berbasis budaya.
- Menjaga segala komponen ekologi dengan pendekatan konservasi warisan bumi dan alam serta budaya di daerah.
- Meriset, mendata dan mempelajari segala kerusakan alam akibat bencana antropogene dan nonantropogene yaitu terhadap lingkungan air, tanah dan hutan serta menjaga hutan sebagai paru-paru dunia di wilayah Adat Mepago-Papua.
- Akan menjadikan kawasan konservasi bumi (geoconservation) dengan status kawasan warisan bumi lokal, nasional, dan akan dikembangkan sampai status kawasan perlindungan warisan bumi internasional.
- Membangun dan mendorong kawasan wisata bumi dan alam (geotourism and nature tourism), wisata
ekonomi (ecotourism) berbasis budaya
dan kontekstual demi memenuhi kebutuhan hidup masyarakat orang asli di daerah
pada masa depannya.

